.

“Oasis” Tersembunyi di Ujung Bumoe Meureuhom Daya

Kategori : Wisata & Lingkungan Rabu, 12 Juni 2019 - Oleh admin

Calang (Aceh Jaya) — Kala sang surya menyinari dedaunan dengan sinar hangatnya pada pagi Senin (11/6/2019), pukul 06.00 WIB, sembilan orang anggota Komunitas Pegiat Wisata Aceh Jaya, berangkat mengunjungi salah satu desa bernama Alue Jang, yang berada di Kecamatan Pasie Raya, Aceh Jaya.

Bersama anggota pegiat wisata, dan para media menelusuri jalan yang belum mulus. Rombongan melintasi pemukiman warga, menempuh dua jam perjalanan menggunakan sepeda motor atau berjarak sekitar 15 Kilometer. Iring-iringan mulai memacu gas sepeda motor, dimulai dari persimpangan Teunom, Desa Padang Kleng, menuju lokasi yang dituju.

Setibanya di lokasi, kedatangan kami disambut salah satu pemuda di desa setempat, khairul, 32, sapaan akrab Khairul Ceurache Embun. Dia sudah mempersiapkan menu untuk sarapan kami.

Saat itu, dengan secangkir teh hangat, Khairul menceritakan keindahan alam di Pucoek Krueng Teunom tersebut. Menurutnya, alam di tempat itu masih sangat asli.

Di lokasi itu, kata dia, masih banyak ditemui satwa liar. Seperti burung yang berterbangan dari satu dahan ke dahan pohon lainnya, sambil mengeluarkan suaranya.

Ada dua hal yang menarik di Pucoek Krueng Teunom. Seperti di Krueng Paleng, di mana tebing tinggi mengelilingi sungai dan pepohonan yang hijau. Seakan membuat mata ini tidak akan berkedip dan selalu terpana melihat tempat itu.

Keindahan air terjun di Ceurache Emboen (Embun), sangat luar biasa. Dengan ketinggian air terjun yang mencapai 80 meter dari permukaan tanah, tempat itu sangat cocok bagi pengunjung yang mencintai alam.

Ceurache Embon Pasie Raya

Matahari terus berlalu hingga di atas kepala menandakan cacing mulai “bernyanyi” di dalam perut dan akhirnya tibalah di sebuah pantai di mana ada pancuran air di seberangnya.

Boat pun berlabuh karena instruksi khairul untuk beristirahat sejenak dan menyantap bekal yang dibawa. Usai menurunkan semua bekal dan memutuskan untuk langsung melahap makan siang, perjalanan pun kembali dilanjutkan dengan berjalan kaki.

Mendaki tebing dengan penuh kehati – hatian di mulai dari bibir sungai setinggi lima meter dari permukaan sungai ditemani gemuruh air yang meredupkan kicauan burung. Akhirnya nampak dari kejauhan air yang mengalir deras di bebatuan dengan ketinggian 20 meter.

Pesembahan Air Terjun Ceurache Embon menggiurkan hati, melenyapkan lelah dan menenteramkan jiwa. Lelah terbayar lunas. Tak terasa seluruh yang datang langsung memanjakan tubuh dengan percikan air, yang menerpa wajah seakan sedang berada di kutub utara ditemani butiran salju di musim dingin.

“Makna dari nama Air Terjun Ceurache Embon diartikan sebagai berikut, air terjun adalah air yang jatuh dari ketinggian. Ceurache adalah bahasa Aceh dengan arti air yang mengalir deras di atas batu sedangkan Embon (embun) diambil dari percikan air yang berterbangan di sekitar lokasi,” Jelas Khairul.

foto :  Alam Krueng Paleng dan akses menuju ke Air Terjun Ceurache Embon, kelihatan indah dan menantang  

Jika digabungkan makna di balik nama Lokasi ini adalah air yang jatuh dan mengalir deras hingga menghasilkan percikan air yang berterbangan seperti embun.

Menyimak dan mendengar sekilas penjelasan Khairul mendorong kami segera membasahkan tubuh dengan air yang luar biasa dingin, hingga jam menunjukan pukul 16.00 WIB. Kami pun memutuskan pulang pada sore itu dengan perasaan puas dan lega. (**).